CELIOS Prediksi Inflasi Maret Tembus 5,4 Persen Imbas Lebaran

AKURAT.CO Lonjakan inflasi menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H diperkirakan mencapai kisaran 5–5,4% secara tahunan (year on year/yoy) pada Maret 2026.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan biaya logistik dinilai menjadi faktor utama yang dapat menekan daya beli masyarakat saat momentum konsumsi tahunan tersebut.
Menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan inflasi berpotensi melonjak karena kombinasi permintaan tinggi saat Lebaran dan kenaikan harga BBM nonsubsidi.
“Inflasi diperkirakan melonjak 5 hingga 5,4 persen pada Maret (yoy) karena faktor Lebaran, tapi juga dorongan kenaikan harga BBM nonsubsidi,” ucap Bhima di Jakarta, Senin.
Baca Juga: Inflasi AS 2,4 Persen Tahan Pergerakan Pasar Kripto
Ia menjelaskan tingginya konsumsi BBM selama arus mudik dapat meningkatkan biaya distribusi pangan. Kondisi tersebut berpotensi menaikkan harga bahan pokok baik di pasar tradisional maupun ritel modern.
“Inflationary pressure dari BBM ke pangan meningkatkan harga di level pasar tradisional dan ritel modern,” ujarnya.
Kenaikan biaya logistik, lanjutnya, umumnya diteruskan pelaku usaha kepada konsumen melalui harga jual barang.
Secara historis, inflasi Indonesia kerap meningkat menjelang Lebaran akibat lonjakan permintaan pangan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi tahunan pada Maret 2025 berada di kisaran 3%, masih dalam target stabilitas harga nasional.
Namun pada 2026, tekanan inflasi diperkirakan lebih tinggi karena kombinasi faktor energi dan gejolak geopolitik global, termasuk potensi gangguan pasokan energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Efek Diskon Listrik 2025 Dorong Inflasi Februari 2026 ke 4,76 Persen
Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya energi dan distribusi barang, yang pada akhirnya berdampak pada harga konsumsi rumah tangga.
Diketahui, kenaikan inflasi berpotensi memengaruhi pola belanja masyarakat saat Lebaran. Bhima memperkirakan sebagian masyarakat akan lebih berhati-hati dalam menggunakan dana tunjangan hari raya (THR).
“Ekspektasi masyarakat sebagian akan berhemat di kala Lebaran, atau tidak membelanjakan seluruh dana THR. Efeknya masyarakat menahan belanja barang sekunder dan tersier,” kata dia.
Perubahan perilaku ini juga dapat berdampak pada sektor usaha yang biasanya menikmati lonjakan penjualan saat Lebaran, seperti ritel, transportasi, dan akomodasi.
Selain itu, kenaikan harga kebutuhan pokok juga diperkirakan mempersingkat durasi tinggal pemudik di kampung halaman.
“Omzet pelaku usaha akomodasi dan transportasi yang seharusnya naik berkali lipat mungkin tidak sesuai rencana awal,” ujarnya.
Bhima menilai pemerintah perlu memastikan ketersediaan pasokan energi selama periode mudik, terutama di luar Pulau Jawa.
Ia juga menilai kebijakan bekerja dari rumah (WFH) atau bekerja dari mana saja (WFA) selama lima hari bagi ASN dan pekerja swasta dapat menjadi opsi untuk mengurangi konsumsi energi.
Namun, kebijakan tersebut perlu disertai perlindungan terhadap pekerja, termasuk kemungkinan pemberian bantuan subsidi upah agar tidak menimbulkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ke depan, stabilitas pasokan energi, inflasi pangan, serta kebijakan pengendalian harga akan menjadi faktor kunci dalam menjaga daya beli masyarakat selama periode Lebaran 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.











