Akurat
Pemprov Sumsel

Harga Emas Naik ke USD4.850, Geopolitik Masih Jadi Penopang

Esha Tri Wahyuni | 18 April 2026, 11:56 WIB
Harga Emas Naik ke USD4.850, Geopolitik Masih Jadi Penopang
ilustrasi emas batangan

AKURAT.CO Harga emas dunia kembali menguat di tengah meredanya ketegangan sementara di Timur Tengah.

Mengutip hasil data Trading Economics menunjukkan, pada Jumat (17/4/2026) lalu, harga emas naik ke kisaran USD4.850 per ons, memperpanjang tren penguatan mingguan menjadi empat pekan berturut-turut.

Kenaikan ini terjadi meski sentimen pasar sempat membaik setelah Selat Hormuz dipastikan tetap terbuka untuk pelayaran komersial selama periode gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon.

Namun, otoritas Iran menetapkan kapal harus melalui “rute terkoordinasi,” yang menandakan kontrol ketat masih diberlakukan di jalur vital energi global tersebut.

“Pengumuman tersebut memicu penurunan tajam harga minyak yang turun lebih dari 10%, membantu meredakan tekanan inflasi, setidaknya dalam jangka pendek. Terlepas dari sentimen yang membaik, situasi yang lebih luas tetap rapuh,” tulis Trading Economics dalam laporannya, Sabtu (18/4/2026).

Baca Juga: Harga Emas Pegadaian 18 April 2026 Turun Lagi, Intip Rincian Per Gramnya Di Sini

Dari sisi kebijakan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS akan tetap berjalan hingga tercapai kesepakatan komprehensif dengan Iran.

Pernyataan ini menjadi penahan optimisme pasar, sekaligus memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Secara historis, Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global. Setiap gangguan di wilayah ini kerap memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.

Dalam beberapa dekade terakhir, ketegangan di kawasan tersebut selalu berkorelasi dengan penguatan harga emas.

Meski harga minyak mengalami koreksi tajam, pasar emas justru menunjukkan ketahanan. Hal ini menandakan bahwa pelaku pasar masih memprioritaskan faktor risiko geopolitik dibandingkan perbaikan jangka pendek di sisi inflasi.

Direktur Lindung Nilai Risiko Komersial di Walsh Trading, John Weyer, menyebut volatilitas emas saat ini semakin menyerupai aset berisiko.

“Pasar emas dan perak saat ini memiliki volatilitas tinggi yang mirip dengan aset berisiko lainnya, memaksa investor untuk tetap berhati-hati,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski data inflasi berpotensi mendorong arus dana ke logam mulia, faktor geopolitik tetap menjadi penggerak utama. Dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan bergerak dalam kisaran USD4.750–4.800 sebagai level support.

Baca Juga: Emas Global Masih Fluktuatif, Target Tembus Rp6 Juta Masih Terbuka

“Dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan akan terus berfluktuasi dalam kisaran sempit tetapi sedikit condong ke atas, karena tetap stabil di zona support utama sekitar USD4.750–4.800 per ons,” jelas Weyer.

Dari sisi teknikal, pasar memantau level resistensi di kisaran USD4.900 hingga USD5.000 per ons. Penembusan level tersebut berpotensi membuka ruang kenaikan lanjutan, sementara kegagalan menembus dapat membawa emas kembali ke fase konsolidasi.

Bagi pasar global, kondisi ini mencerminkan fase transisi: tekanan inflasi mulai mereda akibat turunnya harga energi, tetapi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Kombinasi ini membuat investor cenderung menahan posisi dan menunggu kejelasan arah kebijakan serta perkembangan konflik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.