Akurat Logo

Perry : Rupiah Berpeluang Rebound pada Semester II 2026

Esha Tri Wahyuni | 19 Mei 2026, 08:10 WIB
Perry : Rupiah Berpeluang Rebound pada Semester II 2026
Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis rupiah kembali menguat pada Juli-Agustus 2026 seiring faktor seasonal dan stabilisasi pasar keuangan.

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali menguat pada Juli hingga Agustus 2026 setelah sempat tertekan mendekati level terendah sepanjang sejarah.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut penguatan rupiah akan ditopang faktor teknikal global maupun domestik.

“Seasonality Juli-Agustus akan menguat. Faktor teknikal ada faktor global dan domestik,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).

Baca Juga: Bos BI Bantah Cari Untung di Tengah Pelemahan Rupiah

Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.640 per USD di pasar spot. Meski demikian, Perry menegaskan pelemahan rupiah secara tahun kalender atau year to date (ytd) belum mencapai Rp17.000 per USD.

“Kalau year to date belum sampai Rp17.000, masih sekitar Rp16.800 per USD” kata Perry.

Data Bank Indonesia menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi penguatan dolar AS secara global akibat ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat serta tingginya permintaan aset safe haven.

Sedangkan dari sisi domestik, pasar juga mencermati kebutuhan impor dan arus keluar modal asing dari pasar keuangan emerging market.

Dalam rapat tersebut, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun meminta BI menjaga stabilitas rupiah agar kembali mendekati asumsi makro APBN 2026 di level Rp16.500 per USD.

“Nah kita meminta karena ini kita menyepakati seperti kata Pak Gubernur BI bahwa tadi ditetapkan di Rp16.500, tolong dikembalikan ke arah mendekati sana,” ujar Misbakhun.

Baca Juga: Pendapatan BI dari Pengelolaan Valas Melonjak Saat Rupiah Melemah, Misbakhun: Jadi Pertanyaan Kita Semua

Permintaan itu dinilai penting karena pelemahan rupiah yang terlalu jauh dari asumsi APBN dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.

Pelemahan kurs berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor, memperbesar biaya produksi industri berbasis bahan baku impor, hingga menekan daya beli masyarakat.

Sebagai informasi, periode Juli hingga Agustus memang kerap menjadi momentum penguatan rupiah seiring masuknya aliran modal asing ke pasar obligasi domestik dan meningkatnya pasokan devisa dari ekspor komoditas.

Pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, rupiah juga cenderung stabil setelah tekanan volatilitas pada semester pertama.

Bank Indonesia sendiri terus melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, serta penguatan instrumen moneter pro-market.

Hingga awal Mei 2026, cadangan devisa Indonesia juga masih berada di level aman untuk menopang stabilitas eksternal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.