Akurat
Pemprov Sumsel

Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Kebut Target Kemiskinan Ekstrem Nol Persen

Demi Ermansyah | 3 September 2024, 13:07 WIB
Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Kebut Target Kemiskinan Ekstrem Nol Persen

AKURAT.CO Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia berhasil tumbuh dengan cukup stabil dan tinggi dibandingkan rata-rata global, meskipun dihadapkan pada dinamika dan volatilitas yang cukup tinggi. Hal ini juga berdampak positif pada Indeks Pembangunan Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini membantu memperbaiki indeks pembangunan kita. Angka kemiskinan yang sempat naik akibat pandemi, dari 9,4 persen pada 2019 menjadi 10,14 persen, kini sudah turun lagi hingga di bawah angka sebelum pandemi, yaitu 9,03 persen,” ungkap Sri Mulyani dikutip Selasa (3/9/2024).

Dalam Rapat Kerja dengan Komite IV DPD RI, Sri Mulyani juga menambahkan bahwa kemiskinan ekstrem terus menurun dan mendekati 0, sesuai target pemerintah untuk menghapuskan kemiskinan ekstrem di Indonesia pada 2024.

Baca Juga: Banggar Fasilitasi Pemerintah Tuntaskan Kemiskinan Ekstrem di 2025

Ia juga menjelaskan bahwa meski ekonomi global sedang tidak stabil dengan inflasi tinggi, suku bunga melonjak di Amerika Serikat, dan adanya capital outflow serta penguatan dolar AS, ekonomi Indonesia pada 2023 tetap tumbuh sebesar 5,05%.

“Kita berhasil menjaga momentum pertumbuhan meski situasi ekonomi global sedang sangat tidak menentu. Terjadi fragmentasi, proteksionisme, dan kenaikan tarif yang melemahkan perdagangan antarnegara, sementara pertumbuhan global hanya 3 persen, kita tetap bertahan di 5 persen,” lanjutnya.

Pertumbuhan ekonomi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya tahan yang kuat, baik dari segi konsumsi rumah tangga yang terjaga maupun investasi yang mulai meningkat berkat adanya capital inflow. Pemerintah terus mendorong pertumbuhan melalui APBN.

Dari segi pemerataan, beberapa indikator menunjukkan perbaikan, termasuk rasio gini yang pada 2024 lebih rendah dibanding saat pandemi, dari 0,381 menjadi 0,379.

“Tingkat kemiskinan dan pengangguran di berbagai wilayah juga membaik. Tapi ini bukan berarti kita bisa berpuas diri, karena masih ada daerah-daerah yang tingkat kemiskinannya masih cukup tinggi di atas rata-rata nasional,” tambahnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.