Harga Minyak Dunia Melonjak, Peluang Cut Rate The Fed Masih Terbuka

AKURAT.CO Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat yang kembali menembus level USD4 per galon memicu perhatian pasar global.
Namun, berbeda dari kekhawatiran sebelumnya, kenaikan harga energi kali ini dinilai tidak otomatis mendorong bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk menaikkan suku bunga.
Sebaliknya, sejumlah analis justru melihat peluang pemangkasan suku bunga masih terbuka pada tahun ini.
Baca Juga: Pasar Kerja Melemah, The Fed Buka Ruang Penurunan Suku Bunga
Mengutip dari laman CNBC Internasional berdasarkan data terbaru menunjukkan harga bensin nasional di AS telah menembus rata-rata USD4,02 per galon, level tertinggi sejak tahun 2022.
Kenaikan tersebut dipicu lonjakan harga minyak mentah dunia akibat gangguan pasokan global serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Meski demikian, Ketua The Fed, Jerome Powell menegaskan lonjakan harga energi saat ini lebih dipandang sebagai guncangan pasokan jangka pendek, bukan tekanan inflasi yang bersifat permanen.
“Tidak perlu menaikkan suku bunga saat ini,” demikian sinyal yang disampaikan Powell, yang kemudian direspons positif oleh pasar.
Baca Juga: The Fed Prediksi Lonjakan Harga Minyak Dorong Inflasi AS ke 2,7 Persen
Sikap tersebut menandai perubahan ekspektasi pasar yang sebelumnya sempat memperkirakan peluang kenaikan suku bunga. Kini, pelaku pasar justru mulai kembali menghitung kemungkinan pemangkasan suku bunga pada semester II 2026.
Goldman Sachs bahkan menilai pasar terlalu agresif dalam memproyeksikan kenaikan suku bunga.
Menurut lembaga tersebut, terdapat empat alasan utama mengapa The Fed kemungkinan besar akan tetap dovish.
Pertama, kenaikan harga minyak saat ini dinilai tidak sebesar krisis energi historis seperti era 1970-an.
Kedua, pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan perlambatan, sehingga tekanan dari sisi upah relatif lebih terkendali.
Ketiga, inflasi inti masih dinilai cukup terjaga.
Keempat, secara historis The Fed jarang merespons shock harga minyak dengan kenaikan bunga secara langsung.
Oleh karena itu, tidak sedikit para analis menilai, fokus utama The Fed saat ini bukan hanya inflasi, tetapi juga menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja.
Hal ini sejalan dengan data ketenagakerjaan terbaru yang menunjukkan ekonomi AS masih menambah sekitar 178 ribu lapangan kerja pada Maret 2026, dengan tingkat pengangguran turun tipis ke 4,3%.
Namun demikian, lonjakan harga BBM tetap membawa risiko terhadap daya beli masyarakat.
Kenaikan biaya energi berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, terutama untuk belanja non-primer. Jika tekanan ini berlanjut, perlambatan ekonomi justru dapat menjadi alasan lebih kuat bagi The Fed untuk memangkas suku bunga.
Di pasar global, perkembangan ini turut menjadi perhatian investor karena arah kebijakan The Fed akan memengaruhi arus modal, nilai tukar dolar AS, hingga pergerakan harga aset berisiko di emerging markets, termasuk Indonesia.
Bagi pasar domestik, potensi penurunan suku bunga AS dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah dan pasar saham, meski volatilitas harga minyak dunia tetap menjadi risiko utama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









