Akurat
Pemprov Sumsel

Konsumsi Melemah Jadi Risiko Besar Pertumbuhan Ekonomi China di Tahun 2026

Andi Syafriadi | 20 April 2026, 10:50 WIB
Konsumsi Melemah Jadi Risiko Besar Pertumbuhan Ekonomi China di Tahun 2026
Pertumbuhan ekonomi China 5% di awal 2026 ditopang ekspor, namun konsumsi domestik lemah dan risiko global meningkat akibat perang Iran (Source: Getty Images)

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I 2026 yang mencapai 5% secara tahunan memberikan sinyal pemulihan di awal tahun.

Meskipun begitu, di balik angka tersebut, muncul kembali persoalan struktural lama, yakni ketimpangan antara sisi produksi yang kuat dan konsumsi domestik yang lemah.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menghambat keberlanjutan pertumbuhan ekonomi China dalam jangka menengah. Salah satu ciri utama ekonomi China saat ini adalah dominasi sektor produksi dan ekspor.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi China Tetap Moncer di Tengah Perang Iran vs AS, Ini Sebabnya

Sektor manufaktur tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, didukung oleh daya saing harga dan kapasitas produksi besar.

Sedangkan konsumsi domestik justru belum pulih sepenuhnya. Dikutip dari laman TheStraitsTimes hasil data menunjukkan penjualan ritel hanya tumbuh 1,7% pada Maret 2026, mencerminkan lemahnya daya beli masyarakat.

Ekonom menyebut kondisi ini sebagai “imbalanced growth” atau pertumbuhan yang tidak seimbang. Dimana adanya ketahanan di sisi produksi, tetapi permintaan domestik masih lemah.

Ketimpangan ini berisiko memperlambat transformasi ekonomi China yang selama ini berupaya beralih dari model berbasis ekspor ke konsumsi domestik.

Salah satu faktor utama lemahnya konsumsi adalah krisis sektor properti yang masih berlangsung.

Baca Juga: China Bantah Rumor Kesepakatan dengan AS Agar Tidak Memasok Senjata ke Iran

Harga rumah baru masih menunjukkan tren penurunan, mencerminkan lemahnya kepercayaan konsumen dan sektor real estate.

Padahal, sektor properti memiliki kontribusi besar terhadap kekayaan rumah tangga di China.

Ketika sektor ini melemah, dampaknya langsung terasa pada konsumsi masyarakat. Ketimpangan domestik ini semakin diperburuk oleh tekanan eksternal.

Perang Iran tidak hanya berdampak pada energi, tetapi juga memperlambat perdagangan global.

China sebagai negara dengan ekonomi berbasis ekspor menjadi sangat rentan terhadap pelemahan permintaan global. Selain itu, kenaikan biaya energi meningkatkan tekanan inflasi dan biaya produksi.

Hal ini berpotensi mengurangi daya saing produk China di pasar internasional.

Oleh sebab itu, saat ini pemerintah China sedang menghadapi dilema kebijakan. Satu sisi, masih diperlukan stimulus untuk mendorong konsumsi domestik. Sedangkan sisi lainnya, ruang kebijakan moneter terbatas karena tekanan inflasi dan ketidakpastian global.

Bank sentral diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga, dengan kemungkinan pelonggaran terbatas melalui penurunan rasio cadangan bank.

Sementara itu, pemerintah juga berencana meningkatkan belanja infrastruktur dan layanan publik untuk menopang pertumbuhan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.