Akurat Logo

Pasar Kerja AS Bertahan di Tengah Bayang-Bayang Inflasi Energi

Andi Syafriadi | 10 Mei 2026, 08:30 WIB
Pasar Kerja AS Bertahan di Tengah Bayang-Bayang Inflasi Energi
Ilustrasi Masyarakat Amerika Serikat (Soruce: REUTERS/DAVID RYDER)

AKURAT.CO Perekonomian Amerika Serikat kembali menunjukkan daya tahan di tengah tekanan geopolitik dan kenaikan harga energi global.

Data terbaru ketenagakerjaan menunjukkan pasar kerja Negeri Paman Sam masih tumbuh lebih baik dibanding ekspektasi pasar.

Departemen Tenaga Kerja AS mencatat penambahan 115 ribu lapangan kerja baru pada April 2026. Angka tersebut jauh melampaui proyeksi ekonom yang sebelumnya memperkirakan hanya sekitar 62 ribu pekerjaan baru. Tingkat pengangguran juga tetap berada di level 4,3%.

Jika dilihat di permukaan, data tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat menghadapi ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Baca Juga: Amerika Serikat Lumpuhkan Kapal Tanker Iran di Teluk Oman

Namun, di balik angka utama yang terlihat positif, sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang tidak bisa diabaikan.

Reuters melaporkan bahwa jumlah pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi meningkat tajam hingga 445 ribu orang. Pada saat yang sama, tingkat partisipasi angkatan kerja terus menurun menjadi 61,8%, level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Penurunan partisipasi tenaga kerja menjadi perhatian karena berkontribusi menjaga angka pengangguran tetap rendah secara statistik. Artinya, sebagian masyarakat tidak lagi aktif mencari pekerjaan sehingga tidak tercatat sebagai pengangguran resmi.

Kondisi tersebut memunculkan gambaran bahwa pasar tenaga kerja AS sebenarnya mulai kehilangan momentum.

Sedangkan untuk sektor kesehatan masih menjadi motor utama penciptaan lapangan kerja dengan tambahan sekitar 37 ribu pekerjaan. Sektor transportasi dan pergudangan juga menambah sekitar 30 ribu tenaga kerja seiring tingginya kebutuhan distribusi logistik. Sementara sektor ritel menyumbang sekitar 22 ribu pekerjaan baru.

Di sisi lain, sejumlah sektor strategis justru mulai melemah. Industri manufaktur tercatat kehilangan sekitar 2 ribu pekerjaan pada April 2026. Sektor informasi dan pemerintahan federal juga mengalami penurunan tenaga kerja.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja di AS semakin terkonsentrasi pada sektor jasa, sementara sektor produksi dan industri mulai mengalami tekanan.

Baca Juga: Pejabat Amerika Serikat: Permusuhan dengan Iran telah Berakhir!

Tekanan tersebut diperparah oleh kenaikan harga energi akibat konflik Iran yang masih mempengaruhi rantai pasok global.

Meskipun pertumbuhan upah tahunan naik menjadi sekitar 3,6%, kenaikan tersebut dinilai belum cukup untuk mengimbangi tekanan inflasi energi dan biaya hidup masyarakat.

Lembaga survei University of Michigan bahkan mencatat sentimen konsumen AS turun ke level terendah akibat kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan harga bahan bakar.

Kondisi ini membuat bank sentral AS atau Federal Reserve diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.