Xi Jinping Janjikan China Lebih Terbuka untuk Investor AS

AKURAT.CO Presiden China Xi Jinping memberikan sinyal keterbukaan ekonomi yang lebih besar kepada perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di tengah memanasnya persaingan geopolitik antar kedua negara tersebut.
Pesan itu disampaikan Xi saat menerima sejumlah pemimpin perusahaan AS yang mendampingi Presiden AS, Donald Trump dalam kunjungannya ke Beijing.
Dalam pertemuan yang digelar di Great Hall of the People, Beijing, Xi menegaskan perusahaan-perusahaan Amerika selama ini memiliki peran penting dalam reformasi dan keterbukaan ekonomi China.
Baca Juga: Xi Jinping Peringatkan Trump soal Taiwan: AS-China Bisa Berujung Konflik Besar
“Pintu China terhadap dunia luar akan terbuka semakin lebar,” ujar Xi dikutip dari CCTV.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah pembicaraan sensitif antara kedua pemimpin negara terkait perdagangan hingga isu Taiwan. Meski demikian, Beijing tetap menampilkan pesan optimistis kepada pelaku bisnis global.
Sejumlah petinggi perusahaan teknologi dan manufaktur AS turut hadir dalam pertemuan itu, termasuk Elon Musk dari Tesla, Tim Cook dari Apple, Jensen Huang dari NVIDIA hingga Kelly Ortberg dari Boeing.
Kehadiran para eksekutif tersebut menunjukkan pasar China masih menjadi salah satu tujuan strategis bagi korporasi AS, meski hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir diwarnai perang dagang, pembatasan teknologi, dan isu keamanan nasional.
Baca Juga: Trump ke Beijing, Xi Jinping: Kita Seharusnya Menjadi Mitra, Bukan Rival!
China dan AS sendiri memiliki hubungan perdagangan terbesar di dunia. Data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menunjukkan kedua negara telah saling terhubung erat sejak China bergabung ke WTO pada 2001 dengan dukungan AS.
Dalam kesempatan itu, Xi juga menyatakan keyakinannya bahwa perusahaan AS masih memiliki peluang bisnis yang luas di China.
Sementara itu, Trump disebut mendorong terciptanya berbagai kesepakatan bisnis baru, mulai dari sektor pertanian, energi, hingga dirgantara, termasuk potensi pembelian pesawat Boeing dalam jumlah besar.
Pertemuan ini menjadi kunjungan kenegaraan pertama presiden AS yang sedang menjabat ke China dalam sembilan tahun terakhir, sekaligus menjadi sinyal penting di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








