Jelang Muktamar ke-35 NU, Kepemimpinan Said Aqil–Gus Salam Dinilai Relevan

AKURAT.CO Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), wacana pembaruan kepemimpinan kembali mengemuka. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021–2026, KH Asyhari Abdulah Tamrin, menilai NU berada pada titik krusial yang membutuhkan koreksi dan penataan ulang arah kepemimpinan organisasi.
Menurut Asyhari, dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan persoalan serius yang tidak bisa diabaikan. Ketegangan struktural, melemahnya konsolidasi, hingga polemik yang berdampak pada persepsi publik menuntut hadirnya solusi kepemimpinan yang bersifat menyeluruh dan berjangka panjang.
“Dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari ketegangan struktural, melemahnya konsolidasi, hingga polemik yang berdampak pada persepsi publik, menuntut solusi kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, meneduhkan, dan berjangka panjang,” kata Asyhari, Selasa (3/2/2026).
Baca Juga: Ratusan Warga NU Kecam Sikap Ketua Umum PBNU soal Dewan Perdamaian Trump
Asyhari menilai, kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa NU membutuhkan figur pemimpin yang mampu melakukan rekonsiliasi internal sekaligus penataan organisasi secara mendasar. Dalam konteks itu, diskursus mengenai pasangan kepemimpinan baru di PBNU dinilai wajar dan perlu disikapi secara dewasa.
Ia menyebut nama KH Said Aqil Siroj sebagai kandidat Rais Aam PBNU dan KH Abdussalam Shohib, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, sebagai calon Ketua Umum PBNU. Menurutnya, kedua figur tersebut memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman, serta akar kultural yang kuat di kalangan warga nahdliyyin.
Namun demikian, Asyhari menegaskan bahwa diskursus tersebut tidak dimaksudkan sebagai kampanye personal atau upaya mendahului mekanisme muktamar. Ia menekankan bahwa pembicaraan mengenai figur kepemimpinan justru merupakan bagian dari ikhtiar intelektual dan kultural untuk menyelamatkan marwah organisasi.
“Diskursus ini tidak dimaksudkan sebagai kampanye personal, melainkan sebagai ikhtiar intelektual-kultural untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menyelesaikan persoalan mendasar Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Secara tidak langsung, Asyhari juga mengisyaratkan bahwa konflik internal yang terus berlarut berpotensi menggerus energi organisasi dan menjauhkan NU dari peran strategisnya sebagai penyangga moral umat dan bangsa. Karena itu, kepemimpinan ke depan dituntut tidak hanya kuat secara simbolik, tetapi juga efektif dalam membangun konsolidasi dan disiplin organisasi.
Baca Juga: PBNU Dukung Prabowo Gabung Dewan Perdamaian Bentukan Donald Trump
Menurut Asyhari, kepemimpinan ideal PBNU harus mampu menutup ruang polarisasi, mengakhiri konflik internal, serta mengembalikan fungsi PBNU sebagai pelayan jam’iyyah dan jama’ah. Selain itu, pemulihan nama baik NU di ruang publik juga menjadi agenda penting yang harus dijawab oleh kepemimpinan hasil Muktamar ke-35.
Wacana ini menunjukkan bahwa Muktamar ke-35 NU tidak sekadar menjadi agenda rutin pergantian kepemimpinan, melainkan momentum reflektif untuk menata ulang arah organisasi di tengah tantangan internal dan dinamika kebangsaan yang semakin kompleks.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







