Puan Soroti Ancaman El Nino terhadap Produksi Pangan di Jawa

AKURAT.CO Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyoroti ancaman fenomena El Nino yang dapat memicu kekeringan dan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, pada periode Juni hingga Agustus 2026.
Dia menilai, ancaman El Nino ekstrem pada musim kemarau 2026 harus dibaca sebagai ujian langsung terhadap kemampuan negara dalam melindungi kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Terutama ketika dampaknya paling cepat dirasakan justru oleh kelompok yang ruang bertahannya paling sempit khususnya petani kecil, pekerja harian, dan rumah tangga berpenghasilan rendah," kata Puan, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: BMKG Pantau Fenomena Godzilla El Nino Akan Melanda Indonesia, Apa Bedanya dengan El Nino Biasa?
Dia menjelaskan, informasi mengenai potensi kemarau panjang, khususnya di Pulau Jawa tidak bisa diperlakukan sebagai peringatan rutin tahunan. Hal tersebut karena wilayah ini merupakan pusat produksi pangan nasional yang menentukan kestabilan pasokan dan harga di hampir seluruh daerah.
Ketika produksi terganggu di wilayah utama, yang terdampak bukan hanya sektor pertanian, tetapi juga dapur rumah tangga masyarakat yang lebih dulu merasakan kenaikan harga sebelum negara sempat menjelaskan situasinya.
"Maka Pemerintah dari berbagai instansi harus mampu menyiapkan sistem yang efektif sebagai bentuk antisipasi demi memastikan dampak El Nino Ekstrem tak banyak mempengaruhi kesejahteraan rakyat," pungkas Puan.
Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa musim kemarau tahun 2026 akan dimulai lebih awal dari biasanya. Sebagian besar wilayah diperkirakan mulai memasuki kemarau sejak April hingga Juni 2026 secara bertahap.
Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April (114 ZOM; 16,3 persen), Mei (184 ZOM; 26,3 persen), dan Juni 2026 (163 ZOM; 23,3 persen) diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
Pada April 2026, sejumlah wilayah yang lebih dulu merasakan kemarau meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, pesisir Jawa Tengah, DI Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Baca Juga: Hadapi El Nino, Mentan Pastikan Stok Beras Aman Sampai 11 Bulan
Selain itu, sebagian wilayah Sulawesi Selatan juga diperkirakan mulai memasuki periode kering pada waktu yang sama.
Memasuki Mei hingga Juni, kondisi kemarau akan semakin meluas ke berbagai wilayah lainnya seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dengan dampak yang meluas di berbagai daerah.
Sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami kondisi paling kering pada periode tersebut. Wilayah yang berpotensi terdampak mencakup Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, serta wilayah Maluku dan Papua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









