Akurat Logo

Pemerintah Harus Bangun Kesadaran Masyarakat untuk Cegah Penyebaran Hantavirus

Ayu Rachmaningtyas | 15 Mei 2026, 22:15 WIB
Pemerintah Harus Bangun Kesadaran Masyarakat untuk Cegah Penyebaran Hantavirus
Ilustrasi penyebaran Hantavirus.

AKURAT.CO Pemerintah perlu membangun kesadaran kolektif untuk mengantisipasi terjadinya potensi penyebaran Hantavirus di Tanah Air. Karena itu, langkah edukasi dan sosialisasi terkait ancaman Hantavirus perlu ditingkatkan.

"Negara melalui Kemenkes RI telah mengambil langkah konkret untuk mewaspadai ancaman Hantavirus. Meski begitu, kekhawatiran publik terhadap ancaman virus tersebut di tanah air, harus dapat diatasi secara bersama," kata Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, dalam keterangan, Jumat (15/5/2026).

Lestari yang juga Wakil Ketua MPR RI menilai, upaya pencegahan terhadap ancaman Hantavirus membutuhkan pemahaman semua pihak. Sebab, potensi ancaman yang ada dapat diatasi bersama sebagai bagian upaya peningkatan kewaspadaan dan pencegahan penyebaran Hantavirus di tanah air. 

Baca Juga: Benarkah The Simpsons Prediksi Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar? Cek Penjelasannya!

"Berkaitan bagaimana memitigasi dan tindakan apa yang harus diambil bila terpapar Virus Hanta," ucapnya.

Sebelumnya, adanya kasus penularan di kapal pesiar MV Hondius, Hantavirus sebenarnya telah memiliki sejarah panjang di dunia, termasuk Indonesia.

Terbaru, Kementerian Kesehatan mencatat 256 kasus suspek Hantavirus pada kurun waktu tahun 2024 hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, 23 kasus terkonfirmasi positif.

"Secara angka kasus positif tampak sedikit. Namun, jika ditarik dalam puluhan tahun ke belakang, virus ini terus bergerak secara diam-diam. Kerap kali virus ini bersembunyi di balik diagnosis leptospirosis yang juga dikenal berasal dari tikus tetapi lewat bakteri. Sebagian lain, diagnosis berujung pada penyakit demam berdarah," imbuhnya.

Baca Juga: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Makin Ganas, Penumpang Prancis Kritis dengan Paru-Paru Buatan

Dari data Kementerian Kesehatan, 12 dari 23 kasus positif berasal dari dua kota, yakni Jakarta dan Yogyakarta. Ini menunjukkan Hantavirus tidak hanya terjadi di wilayah terpencil, sebaliknya virus tersebut menyebar ke wilayah urban yang padat penduduk. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko penularan yang terjadi antar manusia.

"Sebagaimana terjadi di dunia, kasus-kasus yang muncul dengan model penularan dari rodensia tikus ke manusia bergeser menuju wilayah padat penduduk seperti di Amerika Utara (tipe new world)," ungkapnya.

"Artinya, virus hanta yang sudah menjangkiti sebelum manusia menuju dunia modern tetap membawa ancamannya saat manusia gencar membangun jalan tol dan gedung pencakar langit. Bahkan, risiko ancamannya pun makin tinggi," tegas dia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.