Akurat
Pemprov Sumsel

Profil Bivitri Susanti, Ahli Hukum Tata Negara yang Bintangi Film Dirty Vote

Rahmat Ghafur | 12 Februari 2024, 11:30 WIB
Profil Bivitri Susanti, Ahli Hukum Tata Negara yang Bintangi Film Dirty Vote

AKURAT.CO Bivitri Susanti tengah menjadi perbincangan netizen usai dirinya tampil dalam film dokumenter berjudul Dirty Vote yang dirilis pada Minggu (11/2/2024) kemarin.

Bivitri menjadi satu-satunya ahli perempuan yang berani untuk membongkar sisi gelap Pemilu 2024 ini. Bahkan, sejumlah pernyataan Bivitri viral karena dinilai sangat sesuai dengan kondisi yang terjadi saat ini.

Selain itu, Bivitri juga menekankan bahwa peran sikap masyarakat memiliki relevansi signifikan dalam sejarah ini. Hal ini tentu saja akan sangat mempengaruhi Indonesia di lima tahun mendatang.

Baca Juga: Trending di X! Ini Link Nonton Dirty Vote, Film Dokumenter yang Bongkar Sisi Gelap Pemilu 2024

Film berdurasi satu jam 57 menit 22 detik ini juga akan menjelaskan mengenai fakta-fakta sesungguhnya dari pemilu 2024. Selain itu, beberapa tokoh dan institusi juga terlibat dalam kecurangan yang terjadi pada pemilu 2024 ini.

Lantas, siapa sosok Bivitri Susanti yang berani menyuarakan pendapatnya mengenai sisi gelap Pemilu 2024 yang kini sedang terjadi di Indonesia? Berikut ini informasi selengkapnya.

Profil Bivitri Susanti

Bivitri Susanti lahir pada 5 Oktober 1974 yang kini berusia 49 tahun. Ia terkenal sebagai seorang pengamat hukum tata negara dan akademisi.

Selain itu, Bivitri juga menjadi pelopor sekaligus dosen di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera. Bivitri juga mendirikan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK).

Bivitri memiliki pendidikan dan sepak terjang yang luar biasa sehingga banyak dari masyarakat yang tidak meragukan lagi ilmu yang dimiliki oleh Bivitri. Bahkan, ketika ia berbicara di film dokumenter Dirty Vote banyak yang memberikan pujian kepada dirinya.

Pendidikan Bivitri Susanti

Bivitri Susanti adalah lulusan dari Fakultas Hukum di Universitas Indonesia pada tahun 1999. Ketika dirinya menjadi mahasiswa, ia bersama seniornya mendirikan PSHK.

PSHK sendiri merupakan suatu lembaga advokasi dan penelitian yang bertujuan untuk melakukan reformasi hukum yang didasari peristiwa Mei 1998.

Setelah lulus dari UI, ia melanjutkan pendidikan magisternya di universitas Warwick, Inggris pada tahun 2002. Tak berhenti begitu saja, Bivitri melanjutkan ke jenjang doktoral  di University of Washington School of Law, Amerika Serikat.

Sepak Terjang Bivitri Susanti

Bivitri sendiri juga berperan aktif dalam berbagai kegiatan aktivisme maupun organisasi di Indonesia. Dirinya juga aktif ikut serta dalam kegiatan pembaruan hukum dengan merumuskan beberapa konsep dan langkah pembaruan.

Beberapa rumusan yang telah dilakukan oleh Bivitri di antaranya Koalisi Konstitusi Baru pada tahun 1999-2002, penulisan Cetak Biru Pembaruan Peradilan, Tenaga Ahli untuk Tim Pembaruan Kejaksaan pada tahun 2005-2007, Tenaga Ahli untuk Dewan Perwakilan Daerah pada tahun 2007—2009, dan advokasi berbagai undang-undang.

Tak hanya itu, dirinya sangat peduli dengan pembaruan hukum yang ada di Indonesia. Bahkan, ia ikut berpartisipasi dalam penyusunan berbagai undang-undang dan kebijakan, serta bekerja di beberapa konsultan untuk berbagai organisasi internasional.

Pada 2013-2014, Bivitri terlibat dalam research fellow di Harvard Kennedy School of Government. Dua tahun kemudian, ia menjadi visiting fellow di Australian National University School of Regulation and Global Governance.

Bivitri mendapat sejumlah penghargaan atas dedikasinya tersebut seperti penghargaan Pemikir Muda Hukum Tata Negara pada tahun 2018. Ia juga meraih penghargaan dalam Anugerah Konstitusi M. Yamin dari APHTN-HAN.

Sebagai pakar hukum tata negara, Bivitri pernah menjadi salah satu panelis dalam debat Pilpres 2019. Tak hanya sekalim dirinya juga sempat diminta menjadi panelis dalam debat Pilpres 2024, namun ia tolak.

Bivitri Susanti berpendapat bahwa fungsi panelis bukan hanya menyusun sebuah pertanyaan saja, namun seharusnya para panelis memiliki kesempatan untuk mengajukan sebuah pertanyaan.

Dengan begitu, masyarakat dapat mengetahui pengetahuan baru dari capres dan komitmen capres itu terhadap isu yang sedang diperdebatkan. 

Baca Juga: Mengapa Film Dirty Vote Dirilis Menjelang Pemilu? Ternyata Begini Pernyataan Sutradara Dandhy Dwi Laksono

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D