Upaya Mengabaikan Putusan MK Dinilai Merusak Tatanan Hukum dan Konstitusi

AKURAT.CO Pengacara senior dan Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Islam Indonesia, Ari Yusuf Amir, menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap dinamika politik yang sedang berlangsung di Indonesia.
Ia menilai, upaya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui beberapa fraksi, kecuali PDIP, untuk mengabaikan dua putusan Mahkamah Konstitusi (MK) adalah tindakan yang berpotensi merusak tatanan hukum dan konstitusi di negara ini.
Ari menyoroti dua putusan MK yang sedang diserang oleh beberapa fraksi di DPR. Pertama, Putusan MK No. 60/PUU-XXII/2004 yang berkaitan dengan penyederhanaan syarat partai politik atau gabungan partai politik dalam mencalonkan pasangan calon (paslon) di Pilkada.
Baca Juga: Anies Belum Tentu Diusung PDIP di Pilkada Jakarta 2024, Analis: Megawati Utamakan Kader Internal
Kedua, Putusan MK No. 70/PUU-XXII/2024 yang menetapkan bahwa calon Gubernur dan Wakil Gubernur harus berusia minimal 30 tahun pada saat penetapan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
"Upaya mengangkangi putusan MK ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengancam keberlangsungan demokrasi di Indonesia," ujar Ari, Jumat (23/8/2024).
Ia menjelaskan, tindakan DPR ini jelas bertentangan dengan supremasi konstitusi yang dianut oleh sistem ketatanegaraan Indonesia.
MK adalah lembaga tertinggi yang berwenang menafsirkan konstitusi, dan putusannya harus dihormati oleh semua pihak, termasuk DPR.
Lebih lanjut, Ari menuding, ada agenda politik di balik upaya ini. Ia menilai langkah tersebut didesain untuk menjegal Anies Baswedan dan memuluskan jalan bagi Kaesang Pangarep, putra Presiden Joko Widodo, di Pilkada 2024.
Baca Juga: Gelar Lomba Festival Tempe, Ingrid: Upaya Dorong Warisan Takbenda Unesco
Ari juga mempertanyakan peran Partai Gerindra dan Prabowo Subianto dalam skenario ini, terutama mengingat track record Prabowo yang tidak pernah terlibat dalam manuver politik seperti ini sebelumnya.
"Manuver ini sulit dipahami dari sudut kepentingan Gerindra. Ini berisiko besar bagi citra partai dan dapat merusak simpati rakyat yang telah dibangun Prabowo selama puluhan tahun," tambahnya.
Ari memperingatkan, upaya mengabaikan putusan MK dapat berdampak serius terhadap legitimasi Prabowo Subianto sebagai presiden terpilih. Ia menegaskan, tindakan ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi yang harus dijaga oleh semua lembaga negara.
"Jika ini terus berlanjut, kita bisa melihat degradasi serius terhadap sistem hukum dan konstitusi kita, yang pada akhirnya akan meruntuhkan demokrasi di negeri ini," pungkasnya.
Baca Juga: Integrasi NIK dan NPWP, Grant Thornton Jabarkan Dampak bagi Wajib Pajak dan Rekomendasi Pebisnis
Sikap tegas Ari ini menjadi suara penting dalam mengkritik tindakan DPR dan beberapa fraksi yang dinilai mengancam nilai-nilai dasar demokrasi dan konstitusi di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








