Bantah Kritik Dino Patti Djalal, Jubir Gerindra: Diplomasi Prabowo Tak Bisa Digantikan Lewat Zoom

AKURAT.CO Partai Gerindra merespons kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, mengatakan, diplomasi kepala negara tidak bisa disederhanakan hanya melalui sambungan telepon atau pertemuan virtual.
Ia menyebut Gerindra menghargai setiap masukan dan kritik yang disampaikan kepada pemerintah. Namun mengaku tidak sependapat dengan pandangan yang menilai pertemuan langsung antara presiden dan pemimpin negara lain tidak terlalu diperlukan.
"Ya, kami menghargai semua masukan, kritikan, termasuk yang dilontarkan oleh Pak Dino Patti Djalal. Namun kami kurang sependapat kalau harus disederhanakan bahwa kunjungan presiden itu tidak perlulah bertemu langsung dengan kepala-kepala negara lain, cukup melalui Zoom atau sambungan telepon," jelas Bahtra, di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, kehadiran langsung seorang presiden dalam pertemuan internasional memiliki nilai strategis yang tidak dapat digantikan oleh komunikasi virtual.
Baca Juga: Waketum Gerindra: Kritik Dino Patti Djalal Tidak Konstruktif
Selain memperkuat hubungan antarnegara, pertemuan tatap muka juga dinilai mempermudah proses diplomasi dan negosiasi berbagai kerja sama.
Wakil Ketua Komisi II DPR itu menjelaskan, dalam sejumlah kunjungan luar negeri, Presiden Prabowo tidak datang sendiri, melainkan membawa delegasi yang terdiri dari unsur pemerintah dan pelaku usaha.
Kehadiran rombongan tersebut bertujuan mempercepat tindak lanjut berbagai peluang kerja sama yang dibahas dalam pertemuan tingkat tinggi.
"Presiden juga akan membawa rombongan delegasi banyak, misalnya Danantara diajak, kemudian Kadin diajak. Dan kehadiran presiden di sana untuk mempermudah diplomasi atau negosiasi ketika ada sesuatu yang ingin disepakati, terutama kerja sama yang menyangkut ekonomi," jelasnya.
Bahtra menilai komunikasi langsung antara para pemimpin negara memiliki efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan pertemuan virtual, terutama ketika membahas isu-isu strategis dan investasi.
Selain itu, ia meminta publik tidak hanya melihat kunjungan luar negeri presiden dari sisi penggunaan anggaran negara. Menurutnya, yang lebih penting adalah menilai manfaat dan dampak ekonomi yang dihasilkan dari diplomasi tersebut.
Ia mengutip pernyataan Sekretaris Kabinet, Teddy Indra, yang menyebut kunjungan luar negeri Presiden Prabowo telah menghasilkan komitmen investasi dengan nilai sekitar Rp2.430 triliun.
"Janganlah dilihat kunjungan presiden itu terkait soal mahalnya biaya, tetapi kita harus lihat dampaknya. Pak Seskab sudah menyampaikan bahwa selama presiden melakukan kunjungan ke luar negeri, kita sudah menghasilkan investasi kurang lebih Rp2.430 triliun," kata Bahtra.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa diplomasi luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo memberikan manfaat konkret bagi perekonomian nasional. Investasi yang masuk diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Bahtra menyebut bahwa pertemuan langsung antara kepala negara merupakan bentuk penghormatan diplomatik yang penting dalam hubungan internasional. Karena itu, ia menilai tidak tepat jika kunjungan luar negeri presiden dipandang sekadar sebagai aktivitas seremonial.
Baca Juga: Dino Patti Djalal Minta Prabowo Kurangi Kunjungan Luar Negeri: Jangan Anggap Remeh Jeritan Rakyat
"Kalau negosiasi bertemu langsung kan bisa segera ditindaklanjuti, terutama ketika presiden membawa rombongan yang berkaitan dengan investasi yang bisa dihadirkan di negara kita," ujarnya.
Bahtra pun menegaskan bahwa diplomasi tatap muka tetap menjadi instrumen penting dalam memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia di tengah persaingan ekonomi dan geopolitik global yang semakin kompleks.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









