Negara Tetangga Mulai Hemat BBM Imbas Perang AS-Iran, Bahlil: Kita Lagi Exercise

AKURAT.CO Pemerintah tengah mengkaji berbagai langkah efisiensi energi menyusul kenaikan harga minyak dunia yang dapat menekan keuangan negara dan pasokan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan, pemerintah saat ini sedang mengkaji berbagai langkah guna menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah harga minyak yang meroket.
Adapun beberapa negara tetangga seperti Myanmar dan Filipina sudah mengambil langkah degan menerapkan pengurangan hari kerja untuk menekan konsumsi BBM.
Baca Juga: Pemerintah Buka Opsi Kenaikan BBM Jika Harga Minyak Tembus USD92
Filipina memutuskan untuk menerapkan sistem kerja 4 hari seminggu (compressed workweek) bagi kantor-kantor pemerintah. Sedangkan Myanmar, menerapkan kebijakan ganjil-genap kendaraan mulai Sabtu, 7 Maret 2026.
“Kita lagi melakukan exercise. Apa yang dilakukan oleh negara lain itu kan tergantung dari kondisi masing-masing negara. Kita juga akan melihat seberapa penting dan langkah apa yang harus kita lakukan dalam rangka melakukan efisiensi,” kata Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, upaya efisiensi tidak hanya bertujuan menghemat konsumsi energi, tetapi juga menjadi bagian dari langkah penyelamatan keuangan negara serta optimalisasi pemanfaatan energi domestik.
Selain opsi efisiensi konsumsi energi, pemerintah juga mempertimbangkan percepatan implementasi bahan bakar nabati sebagai alternatif pengganti energi fosil.
Bahlil menyebut pemerintah tengah mendorong percepatan penerapan campuran biodiesel 50% (B50) dari yang saat ini masih berada pada level B40. Kebijakan ini dinilai dapat membantu menekan ketergantungan terhadap impor minyak.
“Untuk diesel, dari B40 sekarang menjadi B50. Atau kita bikin mandatori untuk bensin dan itu lebih bersih. Jadi ada beberapa langkah yang akan kita lakukan,” ujarnya.
Di sektor bensin, pemerintah juga berencana mempercepat penerapan campuran bioetanol sebesar 20% (E20).
Menurut Bahlil, langkah tersebut menjadi semakin relevan apabila harga minyak mentah dunia melampaui USD100 per barel, karena penggunaan bahan bakar campuran dinilai lebih ekonomis dibandingkan penggunaan bahan bakar fosil murni.
“Karena kalau harga minyak fosil bisa melampaui 100 US dolar per barel, maka akan lebih murah jika kita melakukan blending,” ucap Bahlil.
Ketua Partai Golkar ini menambahkan, pemerintah akan terus mencari berbagai alternatif kebijakan untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian pasar energi global.
“Sudah barang tentu dengan kondisi yang ada, pemerintah berpikir untuk mencari alternatif-alternatif terbaik dalam rangka menjaga pasokan energi nasional,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








