Transisi Energi Dipercepat, Ekosistem EV Jadi Fokus

AKURAT.CO Pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) nasional sebagai bagian dari strategi besar memperkuat kemandirian energi dan mempercepat transisi menuju energi bersih.
Langkah ini dilakukan melalui penguatan industri, perluasan infrastruktur pengisian daya, serta penyediaan insentif agar adopsi kendaraan listrik berjalan lebih cepat di sektor transportasi dan industri.
Menteri Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah fokus membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi agar implementasinya berjalan lebih efektif di lapangan.
Baca Juga: Prabowo Beri Tenggat Satu Pekan, Bahlil Diminta Sapu Bersih Izin Tambang Bermasalah
"Kami mendorong pemanfaatan energi bersih dan terbarukan ini lebih cepat dijalankan, termasuk melalui elektrifikasi di sektor transportasi. Dan ini sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menekan emisi," kata Bahlil usai peresmian pabrik perakitan kendaraan komersial listrik PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (10/4/2026).
Secara resmi, pemerintah menargetkan 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik pada 2030. Target tersebut diproyeksikan mampu menghemat energi sebesar 29,79 million barrel oil equivalent (MBOE) dan menurunkan emisi sekitar 7,23 juta ton CO2.
Di sisi pasar, pertumbuhan adopsi EV Indonesia juga menunjukkan tren positif. Data PwC ASEAN eReadiness 2025 mencatat pasar EV nasional tumbuh 49%, dengan penetrasi mencapai 18% dari total penjualan kendaraan.
Percepatan EV merupakan kelanjutan dari kebijakan yang dimulai sejak terbitnya Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga memperkuat rantai industri dari hulu ke hilir, mulai dari pengolahan nikel, produksi baterai, hingga manufaktur kendaraan.
Baca Juga: Bahlil Tertibkan Tambang Ilegal PT AKT, 1.699 Hektare Diselamatkan
Langkah ini menjadi penting karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, bahan baku utama baterai EV.
Di saat bersamaan, Presiden Prabowo Subianto kembali menekankan bahwa kemandirian energi merupakan fondasi utama ketahanan nasional.
"Salah satu langkah adalah akan menggunakan listrik, listrikifikasi. Memakai listrik untuk tidak lagi memakai terlalu banyak BBM dari fosil, dari karbon," tegas Prabowo.
Bagi publik, percepatan EV berpotensi menurunkan biaya operasional transportasi dalam jangka panjang karena biaya energi listrik umumnya lebih rendah dibanding BBM.
Di sisi pasar, kebijakan ini memberi sinyal positif bagi industri otomotif, manufaktur baterai, sektor nikel, serta pembangunan infrastruktur SPKLU.
Saat ini pemerintah juga terus memperluas stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Infrastruktur ini masih menjadi salah satu tantangan utama dalam peningkatan adopsi EV nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









