Akurat Logo

Mengapa Banyak UMKM Gagal Meski Sudah Dapat Modal? Simak Pelajaran Penting dari Program Pemberdayaan Maybank

Idham Nur Indrajaya | 21 Juli 2026, 13:13 WIB
Mengapa Banyak UMKM Gagal Meski Sudah Dapat Modal? Simak Pelajaran Penting dari Program Pemberdayaan Maybank
Banyak UMKM gagal meski sudah mendapat modal. Simak penyebab utamanya dan pelajaran dari program pemberdayaan perempuan Maybank. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Memperoleh tambahan modal sering dianggap sebagai titik balik bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Harapannya sederhana, yakni usaha berkembang, penjualan meningkat, dan kondisi ekonomi keluarga menjadi lebih baik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan cerita yang tidak selalu seindah harapan. Banyak UMKM gagal meski sudah dapat modal, bahkan sebagian kembali menghadapi persoalan yang sama beberapa bulan setelah menerima bantuan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan UMKM tidak sesederhana kekurangan dana. Tambahan modal memang penting, tetapi belum tentu mampu mengubah kinerja usaha jika pelaku bisnis belum memahami cara mengelola keuangan, menyusun strategi pemasaran, hingga merencanakan pengembangan usaha secara berkelanjutan.

Perspektif inilah yang coba dijawab melalui Women Empowerment Programme (WEP), hasil kolaborasi Maybank Islamic Berhad, PT Bank Maybank Indonesia Tbk melalui Unit Usaha Syariah, dan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Sumatra Utara. Program yang didanai dari zakat produktif senilai Rp1,437 miliar (RM359.608,33) tersebut tidak hanya memberikan bantuan modal kepada 50 perempuan pelaku usaha mikro dari kelompok asnaf fakir dan miskin, tetapi juga membekali mereka dengan pelatihan, pendampingan, hingga penguatan akses bisnis.

Pendekatan tersebut memberi pelajaran penting bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya bergantung pada besarnya modal, melainkan pada kemampuan mengubah modal menjadi usaha yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Ringkasan

Modal bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan usaha. Banyak UMKM mengalami kesulitan berkembang akibat lemahnya pengelolaan bisnis, minimnya literasi keuangan, strategi pemasaran yang kurang efektif, hingga tidak adanya pendampingan setelah memperoleh tambahan modal.

Beberapa penyebab yang paling sering ditemui antara lain:

  • keuangan usaha masih bercampur dengan kebutuhan rumah tangga;

  • tidak memiliki pencatatan pemasukan dan pengeluaran;

  • harga jual ditentukan tanpa menghitung biaya produksi secara menyeluruh;

  • promosi masih mengandalkan pelanggan sekitar;

  • belum memiliki rencana pengembangan usaha.

Akibatnya, tambahan modal sering kali hanya memperbesar kapasitas produksi dalam jangka pendek, tetapi tidak diikuti peningkatan kualitas pengelolaan usaha. Ketika modal mulai berkurang, bisnis kembali menghadapi persoalan yang sama.

Dengan kata lain, modal dapat membuka peluang, tetapi kemampuan mengelola usaha menentukan apakah peluang tersebut benar-benar menghasilkan pertumbuhan.

Modal Bukan Masalah Utama, Lalu Apa Penyebabnya?

Banyak orang beranggapan bahwa hambatan terbesar pelaku usaha mikro adalah keterbatasan modal. Pandangan ini memang tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Dalam praktiknya, tidak sedikit pelaku usaha yang mampu bertahan dengan modal terbatas karena memiliki pengelolaan bisnis yang baik. Sebaliknya, ada pula usaha yang memperoleh tambahan modal cukup besar, tetapi tetap sulit berkembang karena persoalan mendasar tidak pernah diselesaikan.

Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah mencampurkan uang usaha dengan kebutuhan sehari-hari.

Misalnya, seorang pelaku usaha makanan memperoleh keuntungan Rp500 ribu dalam sehari. Karena tidak memiliki pencatatan yang jelas, sebagian keuntungan langsung digunakan untuk membayar tagihan rumah tangga atau kebutuhan pribadi. Akibatnya, pelaku usaha tidak mengetahui berapa laba sebenarnya yang diperoleh dan berapa dana yang seharusnya diputar kembali sebagai modal usaha.

Kesalahan berikutnya adalah tidak menghitung biaya produksi secara lengkap.

Masih banyak UMKM yang menentukan harga jual hanya berdasarkan harga bahan baku. Padahal, terdapat komponen lain yang juga perlu diperhitungkan, seperti biaya gas, listrik, kemasan, transportasi, hingga tenaga kerja. Ketika seluruh biaya tersebut tidak dihitung, keuntungan usaha menjadi jauh lebih kecil daripada yang diperkirakan.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah pemasaran.

Di era digital, kualitas produk saja tidak lagi cukup. Banyak pelaku usaha memiliki makanan atau produk yang baik, tetapi penjualannya stagnan karena hanya mengandalkan pelanggan di lingkungan sekitar. Tanpa memanfaatkan media sosial, layanan pesan antar, atau platform digital lainnya, peluang memperluas pasar menjadi sangat terbatas.

Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa tambahan modal sering kali hanya menyelesaikan satu persoalan, sementara tantangan yang dihadapi UMKM jauh lebih kompleks.

Mengapa Pendekatan Pemberdayaan Lebih Efektif daripada Sekadar Memberi Modal?

Perubahan cara pandang terhadap pengembangan UMKM mulai terlihat dalam berbagai program pemberdayaan, termasuk Women Empowerment Programme yang dijalankan Maybank Islamic, Unit Usaha Syariah Maybank Indonesia, dan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Sumatra Utara.

Alih-alih hanya memberikan hibah modal usaha, program ini dirancang dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Peserta akan mengikuti pelatihan mengenai perencanaan bisnis, pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, hingga pendampingan secara langsung selama menjalankan usahanya.

Pendekatan tersebut mencerminkan pemahaman bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam mengelola sumber daya yang tersedia.

Direktur Unit Usaha Syariah Maybank Indonesia Romy H. Buchari mengatakan pemberdayaan ekonomi perempuan pelaku usaha mikro merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan finansial keluarga sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat yang rentan.

"Sejalan dengan misi Humanising Financial Services yang diusung Maybank Indonesia, kami berupaya untuk dapat hadir sebagai mitra bisnis berkelanjutan yang inklusif. Penyaluran zakat produktif melalui program WEP merupakan bentuk nyata komitmen kami untuk hadir sebagai mitra strategis yang memberdayakan masyarakat untuk menciptakan dampak nyata, terukur, dan berkelanjutan," ujar Romy melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Selasa, 21 Juli 2026.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan sebuah program pemberdayaan tidak lagi hanya dilihat dari jumlah dana yang disalurkan, tetapi dari dampak jangka panjang yang mampu dihasilkan bagi penerima manfaat.

Pendekatan ini juga menjadi pengingat bahwa modal hanyalah titik awal. Yang menentukan keberhasilan sebuah usaha justru terjadi setelah modal diterima, yakni bagaimana pelaku UMKM mengelola keuangan, meningkatkan kualitas produk, membangun strategi pemasaran, dan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pasar.

Di sinilah letak perbedaan antara bantuan yang bersifat sementara dan pemberdayaan yang berorientasi pada perubahan kapasitas. Program yang menggabungkan modal, pelatihan, dan pendampingan memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan usaha yang mampu bertahan dan berkembang dibandingkan program yang hanya berfokus pada penyaluran dana.

Baca Juga: DPR: Penguatan Mandat Komnas Perempuan Harus Diikuti Implementasi dan Dukungan Anggaran

Baca Juga: Membingkai Asa Perempuan Muara Angke, Pameran 'Suara dari Muara' Digelar di Museum Bahari

Mengapa Pendampingan Sama Pentingnya dengan Modal?

Bagi banyak pelaku UMKM, tantangan terbesar justru dimulai setelah modal diterima. Mereka harus memutuskan bagaimana dana digunakan, menentukan prioritas belanja, menghitung keuntungan, hingga mencari cara agar penjualan terus meningkat. Tanpa pendampingan, tidak sedikit pelaku usaha yang akhirnya kembali menggunakan pola lama yang membuat bisnis sulit berkembang.

Karena itu, berbagai program pemberdayaan UMKM mulai bergeser dari pendekatan yang hanya berorientasi pada bantuan dana menjadi penguatan kapasitas pelaku usaha. Pendampingan menjadi jembatan antara teori dan praktik, membantu peserta menerapkan ilmu yang diperoleh sesuai kondisi usahanya.

Dalam Women Empowerment Programme (WEP), misalnya, peserta tidak hanya menerima hibah modal usaha. Mereka juga akan mendapatkan pelatihan mengenai penyusunan rencana bisnis, pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, hingga penguatan kapasitas usaha di lapangan.

Pendampingan seperti ini penting karena setiap pelaku usaha memiliki persoalan yang berbeda. Ada yang kesulitan menentukan harga jual, ada yang belum memahami pencatatan keuangan sederhana, sementara yang lain belum mengetahui cara memasarkan produknya melalui platform digital.

Tanpa proses belajar yang berkelanjutan, tambahan modal berisiko hanya menjadi solusi jangka pendek.

Literasi Keuangan Masih Menjadi Titik Lemah Banyak UMKM

Salah satu masalah yang paling sering ditemui pada usaha mikro adalah rendahnya literasi keuangan. Banyak pelaku usaha belum membedakan uang pribadi dengan uang usaha sehingga sulit mengetahui apakah bisnis yang dijalankan benar-benar menghasilkan keuntungan.

Kesalahan sederhana ini sering kali berdampak besar.

Misalnya, seorang pemilik usaha kuliner memperoleh omzet Rp700 ribu per hari. Karena seluruh pemasukan langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membeli bahan baku, dan pengeluaran lainnya tanpa pencatatan yang jelas, ia merasa usahanya berjalan baik. Padahal, setelah dihitung secara menyeluruh, keuntungan bersih yang diperoleh jauh lebih kecil dari perkiraan.

Kondisi seperti ini membuat pelaku usaha kesulitan mengambil keputusan, seperti kapan harus menambah produksi, membeli peralatan baru, atau memperluas pemasaran.

Melalui pelatihan literasi keuangan, peserta program diharapkan mampu:

  • memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga;

  • membuat pencatatan pemasukan serta pengeluaran secara sederhana;

  • menghitung laba usaha secara lebih akurat;

  • mengelola arus kas agar usaha tetap berjalan;

  • menyusun rencana pengembangan bisnis.

Kemampuan tersebut sering kali menjadi fondasi yang lebih menentukan dibanding tambahan modal itu sendiri.

Studi Kasus: Dua UMKM dengan Modal yang Sama, Hasilnya Bisa Berbeda

Untuk memahami pentingnya pendampingan, bayangkan dua pelaku usaha kuliner yang sama-sama menerima tambahan modal sebesar Rp10 juta.

Pelaku usaha pertama hanya memperoleh tambahan dana. Ia membeli peralatan baru dan menambah stok bahan baku, tetapi tetap menggunakan cara lama dalam mengelola usaha. Keuangan pribadi dan usaha masih bercampur, harga jual tidak pernah dievaluasi, sementara promosi hanya mengandalkan pelanggan tetap. Beberapa bulan kemudian, omzet memang sempat meningkat, tetapi keuntungan tidak banyak berubah karena biaya operasional ikut naik dan pengelolaan bisnis tidak membaik.

Sementara itu, pelaku usaha kedua menerima modal dengan nilai yang sama, tetapi juga mendapatkan pelatihan dan pendampingan. Ia belajar menyusun pencatatan keuangan, menghitung biaya produksi secara lebih rinci, menentukan harga jual berdasarkan margin keuntungan, serta memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pelanggan baru.

Dalam kondisi tersebut, tambahan modal tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki cara usaha dikelola. Dampaknya berpotensi lebih berkelanjutan karena pertumbuhan bisnis didukung oleh peningkatan kemampuan pemilik usaha.

Simulasi ini menggambarkan bahwa perbedaan hasil sering kali bukan terletak pada besarnya modal, melainkan pada kualitas pengelolaan setelah modal diterima.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Program Women Empowerment Programme?

Program WEP menjadi contoh bagaimana pendekatan pemberdayaan mulai bergeser dari sekadar menyalurkan bantuan menuju penguatan kapasitas pelaku usaha.

Didanai menggunakan zakat produktif sebesar Rp1,437 miliar (RM359.608,33), program ini akan berlangsung selama satu tahun dengan sasaran awal 50 perempuan dari kelompok asnaf fakir dan miskin di Sumatra Utara.

Peserta diprioritaskan berasal dari pelaku usaha mikro, khususnya sektor kuliner, yang dinilai memiliki peluang berkembang apabila memperoleh dukungan yang tepat.

Selain hibah modal usaha, mereka akan memperoleh pelatihan dan pendampingan yang mencakup:

  • penyusunan rencana bisnis;

  • pengelolaan keuangan;

  • strategi pemasaran;

  • penguatan kapasitas usaha;

  • perluasan akses bisnis.

Program ini juga diperkuat melalui penyelenggaraan Entrepreneurship Expo dan seminar khusus agar peserta dapat memperkenalkan produknya sekaligus menunjukkan perkembangan usahanya kepada masyarakat.

Menariknya, implementasi program tidak hanya berorientasi pada penyaluran dana. Maybank bersama 'Aisyiyah menetapkan target yang lebih terukur, yakni peningkatan produktivitas dan pendapatan peserta sebesar 15% hingga 30%.

Target tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan program bukan lagi jumlah bantuan yang diberikan, tetapi perubahan yang benar-benar dialami penerima manfaat.

Insight Editorial: Sudah Saatnya Keberhasilan Program UMKM Tidak Diukur dari Besarnya Bantuan

Selama ini, banyak program pemberdayaan UMKM dinilai berhasil ketika dana yang disalurkan besar atau jumlah penerima manfaat terus bertambah.

Padahal, ukuran tersebut belum tentu mencerminkan dampak nyata terhadap perkembangan usaha.

Pertanyaan yang lebih penting justru adalah:

  • Apakah omzet pelaku usaha meningkat?

  • Apakah pencatatan keuangannya menjadi lebih baik?

  • Apakah pelanggan bertambah?

  • Apakah usaha mampu bertahan setelah program selesai?

Jika jawabannya belum, berarti persoalan utama belum benar-benar diselesaikan.

Program seperti Women Empowerment Programme memberi pesan bahwa bantuan modal seharusnya menjadi awal dari proses pembelajaran, bukan tujuan akhir.

Dengan kata lain, keberhasilan pemberdayaan UMKM lebih tepat diukur dari peningkatan kapasitas pelaku usaha dibanding sekadar besarnya dana yang berhasil disalurkan.


Apa Dampaknya Jika Pendekatan Seperti Ini Diterapkan Lebih Luas?

Jika pendekatan yang menggabungkan modal, pelatihan, dan pendampingan diterapkan secara lebih luas, dampaknya berpotensi melampaui peningkatan pendapatan individu.

Pelaku usaha yang berkembang akan membutuhkan bahan baku lebih banyak, menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan membuka peluang kerja bagi masyarakat di sekitarnya.

Efek berantai tersebut menjadikan UMKM sebagai salah satu motor penggerak ekonomi lokal.

Bagi keluarga penerima manfaat, peningkatan pendapatan juga dapat memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga, mulai dari memenuhi kebutuhan pendidikan anak, meningkatkan kualitas kesehatan, hingga memperbesar kemampuan menghadapi tekanan ekonomi.

Pemberdayaan Perempuan Memberikan Dampak Ganda

Program WEP secara khusus menyasar perempuan pelaku usaha mikro.

Pilihan ini memiliki dasar yang kuat.

Dalam banyak rumah tangga di Indonesia, perempuan tidak hanya berperan sebagai pengelola keuangan keluarga, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan melalui usaha rumahan.

Ketika kapasitas usaha mereka meningkat, manfaatnya cenderung menyebar ke berbagai aspek kehidupan keluarga.

Karena itu, pemberdayaan perempuan tidak hanya menjadi isu kesetaraan gender, tetapi juga strategi pembangunan ekonomi yang mampu menciptakan dampak sosial lebih luas.

Dari Mustahiq Menuju Pelaku Usaha yang Mandiri

Dana yang digunakan dalam Women Empowerment Programme berasal dari zakat produktif Maybank Islamic yang diperuntukkan bagi kelompok asnaf fakir dan miskin (mustahiq).

Pendekatan ini mencerminkan semangat keuangan sosial Islam yang tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan dasar penerima zakat, tetapi juga mendorong mereka agar mampu membangun sumber penghasilan sendiri.

Dalam jangka panjang, keberhasilan program seperti ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Meskipun tidak semua penerima manfaat akan berkembang menjadi pengusaha besar, peningkatan kapasitas usaha dapat membantu mereka mengurangi ketergantungan terhadap bantuan sosial dan meningkatkan kualitas hidup secara bertahap.

Inilah esensi zakat produktif, yakni menciptakan peluang agar penerima manfaat memiliki kemampuan untuk berkembang melalui usaha yang dijalankan.

Selaras dengan ESG dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Pendekatan yang diterapkan dalam WEP juga sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), terutama pada aspek sosial melalui pemberdayaan kelompok rentan dan penguatan inklusi ekonomi.

Selain itu, program ini mendukung sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, pekerjaan layak, dan pengurangan kesenjangan.

Bagi Maybank Group, inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari implementasi strategi ROAR30, yang bertujuan menciptakan dampak sosial positif di kawasan ASEAN melalui layanan keuangan yang lebih inklusif.

Penutup

Banyak UMKM gagal meski sudah mendapat modal karena tantangan terbesar mereka bukan hanya keterbatasan dana, melainkan juga lemahnya kemampuan mengelola usaha. Modal memang penting, tetapi tanpa literasi keuangan, strategi pemasaran, pencatatan yang baik, dan pendampingan, peluang usaha untuk berkembang akan tetap terbatas.

Women Empowerment Programme yang dijalankan Maybank Islamic, Maybank Indonesia Unit Usaha Syariah, dan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Sumatra Utara menunjukkan pendekatan yang lebih komprehensif. Program ini memadukan zakat produktif, pelatihan, pendampingan, dan akses bisnis agar bantuan yang diberikan mampu menghasilkan perubahan yang lebih berkelanjutan.

Pelajaran terbesarnya adalah bahwa keberhasilan UMKM tidak ditentukan oleh seberapa besar modal yang diterima, tetapi oleh kemampuan mengubah modal tersebut menjadi produktivitas, pertumbuhan usaha, dan kemandirian ekonomi.

Pantau terus perkembangan dunia UMKM dan berbagai inovasi program pemberdayaan untuk memahami strategi yang benar-benar mampu membantu usaha kecil naik kelas di tengah persaingan yang semakin dinamis.

Baca Juga: Mengenal Para Pengusaha Perempuan Disabilitas yang Ubah Keterbatasan jadi Peluang Bisnis

Baca Juga: UMKM Perempuan Binaan DANA Catat Kenaikan Pendapatan 113 Persen, Ini Rahasianya


FAQ

Mengapa tambahan modal saja belum cukup bagi UMKM?

Karena banyak UMKM masih menghadapi persoalan pengelolaan keuangan, pencatatan usaha, pemasaran, dan perencanaan bisnis. Tanpa kemampuan tersebut, tambahan modal sering kali hanya memberikan dampak sementara.

Apa kesalahan yang paling sering dilakukan pelaku UMKM?

Kesalahan yang umum terjadi antara lain mencampurkan uang usaha dengan keuangan pribadi, tidak menghitung biaya produksi secara lengkap, tidak memiliki pencatatan keuangan, serta kurang memanfaatkan pemasaran digital.

Mengapa pendampingan usaha penting bagi UMKM?

Pendampingan membantu pelaku usaha menerapkan pengetahuan dalam kondisi nyata, mulai dari menentukan harga jual, mengelola arus kas, hingga menyusun strategi pengembangan usaha sesuai kebutuhan bisnisnya.

Apa itu zakat produktif?

Zakat produktif adalah penyaluran dana zakat yang digunakan untuk kegiatan yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan, seperti modal usaha, pelatihan, dan pendampingan bagi pelaku usaha mikro.

Mengapa Women Empowerment Programme berfokus pada perempuan?

Karena perempuan memiliki peran besar dalam mengelola ekonomi keluarga dan banyak menjalankan usaha mikro. Ketika kapasitas usaha mereka meningkat, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Bagaimana cara meningkatkan peluang sukses UMKM setelah mendapat modal?

Selain memanfaatkan modal secara tepat, pelaku usaha perlu meningkatkan literasi keuangan, membuat pencatatan usaha, menyusun strategi pemasaran, mengikuti pelatihan, dan terbuka terhadap pendampingan agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.