Tidak Tepat Sasaran, Pemprov Jakarta Diminta Evaluasi Kebijakan Bebas Pajak Kendaraan Listrik

AKURAT.CO Kebijakan Pemerintah Provinsi Jakarta yang membebaskan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) bagi kendaraan listrik berbasis baterai perlu dievaluasi. Sebab, kebijakan itu dinilai tidak tepat sasaran.
Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansyah, mengatakan, insentif fiskal tersebut berpotensi tidak dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Sebab, mayoritas pemilik kendaraan listrik merupakan kelompok ekonomi atas.
"Kebijakan ini harus dipertanyakan. Apakah benar-benar menyasar kepentingan masyarakat luas atau hanya kelompok tertentu yang mampu membeli kendaraan listrik," katanya, saat dihubungi wartawan, Rabu (6/5/2026).
Trubus juga menekankan perlunya pengukuran efektivitas kebijakan dalam mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Jangan sampai kebijakan ini hanya untuk memaksa masyarakat kecil beralih ke kendaraan listrik tanpa ada bukti konkret.
"Jangan sampai ini hanya menjadi kebijakan simbolik tanpa dampak signifikan terhadap pengurangan emisi," ujarnya.
Baca Juga: Pemprov Jakarta Lanjutkan Kebijakan Kendaraan Listrik Bebas Pajak
Selain itu, Trubus mengingatkan terjadinya potensi pengurangan pendapatan daerah dari sektor pajak kendaraan. Menurutnya, Pemprov Jakarta harus menyiapkan langkah antisipatif untuk menambal pendapatan yang hilang dari kebijakan tersebut.
"Pemprov Jakarta harus menghitung potensi kehilangan pendapatan dan menyiapkan skema penggantinya, agar tidak mengganggu anggaran pembangunan," katanya.
Trubus juga menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur pendukung kendaraan listrik di Kota Jakarta. Ia melihat bahwa saat ini infrastruktur tersebut belum memadai dan perlu ditingkatkan merata di setiap wilayah.
"Kalau infrastruktur seperti stasiun pengisian listrik belum merata, kebijakan ini tidak akan efektif mendorong penggunaan kendaraan listrik," ujarnya.
Trubus menyarankan agar kebijakan tidak hanya berfokus pada insentif pajak tetapi juga pendekatan yang lebih komprehensif. Sebagai contoh, angkot (angkutan umum) di Jakarta masih banyak yang menggunakan BBM, bukan kendaraan listrik.
"Pemerintah perlu mengombinasikan insentif ini dengan penguatan transportasi publik berbasis energi bersih, agar dampaknya lebih luas," katanya.
Sebelumnya, Pemprov Jakarta memutuskan untuk membebaskan PKB dan BBNKB kendaraan listrik. Hal ini sebagai upaya menekan emisi gas buang dan mendorong penggunaan energi ramah lingkungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





