Ekspor China Naik 14 Persen, Tekanan Tarif AS Belum Terasa

AKURAT.CO Ekspor China kembali menunjukkan performa kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik dunia.
Data terbaru bea cukai China menunjukkan ekspor negara tersebut melonjak 14,1% secara tahunan pada April 2026, jauh melampaui perkiraan pasar.
Kinerja tersebut menjadi sinyal bahwa industri manufaktur China masih menjadi tulang punggung rantai pasok global, meski tekanan tarif dari Amerika Serikat (AS) dan konflik geopolitik terus membayangi.
Laporan Reuters menyebut lonjakan ekspor didorong meningkatnya permintaan luar negeri, terutama dari perusahaan global yang mempercepat pembelian komponen dan bahan baku di tengah kekhawatiran kenaikan biaya produksi akibat konflik Iran dan lonjakan harga energi dunia.
Baca Juga: Cina Kaji Konstelasi Komputasi Luar Angkasa, Dorong Infrastruktur Digital Global
Tak hanya ekspor, impor China juga tumbuh kuat sebesar 25,3% pada April. Kondisi tersebut membuat surplus perdagangan China melonjak menjadi USD84,8 miliar atau naik tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level USD51,1 miliar.
Data ini muncul hanya beberapa hari sebelum kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada 14-15 Mei 2026 untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan tersebut diperkirakan akan kembali menyoroti isu perdagangan, tarif impor, hingga dominasi manufaktur China di pasar global.
Meski AS sebelumnya menaikkan tarif impor terhadap produk-produk China, dampaknya belum terlihat signifikan terhadap performa ekspor Negeri Tirai Bambu. Sebaliknya, China justru berhasil memperluas pasar ekspor ke berbagai negara berkembang dan kawasan lain di luar AS.
Tak hanya itu saja, sektor teknologi tinggi seperti elektronik dan mesin menjadi motor utama pertumbuhan ekspor China kali ini. Permintaan terhadap komponen industri berbasis kecerdasan buatan (AI) juga meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Di sisi lain, ekonomi domestik China masih menghadapi tantangan. Konsumsi rumah tangga belum pulih sepenuhnya, sementara tingkat pengangguran masih meningkat. Kondisi ini membuat pemerintah China masih sangat bergantung pada sektor ekspor untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Sepanjang kuartal I 2026, ekonomi China tumbuh sekitar 5%, sesuai target pemerintah Beijing. Namun analis menilai risiko perlambatan masih terbuka apabila konflik geopolitik berkepanjangan memicu lonjakan harga energi dan menekan permintaan global.
Selain itu, biaya input industri seperti minyak bumi, bahan kimia, dan batu bara juga meningkat tajam akibat gangguan rantai pasok global. Reuters melaporkan impor minyak mentah China bahkan turun 20% pada April akibat terganggunya distribusi energi dari Timur Tengah.
Situasi tersebut membuat pertemuan Trump dan Xi Jinping pekan depan dipandang penting bagi arah perdagangan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








