RI Mau Bangun 10,3 GW Pembangkit dari Gas dan Batu Bara, Bahlil: Jangan Dipersepsikan Haram
Camelia Rosa | 27 Mei 2025, 20:39 WIB

AKURAT.CO Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih berencana menambah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) tahun 2025-2034.
Dalam dokumen tersebut, pembangkit dari energi fosil dalam 10 tahun ke depan direncanakan sebesar 16,6 Gigawatt (GW), dengan rincian 10,3 GW berasal dari gas dan 6,3 GW dari batu bara.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pun menekankan bahwa Indonesia tetap punya target transisi energi, namun juga tidak langsung meninggalkan batu bara begitu saja. Apalagi menurutnya, negara maju seperti Amerika Serikat dan Turki masih menggunakan batu bara.
"Di Eropa aja masih ada pakai batu bara kok. Di Turki masih banyak pakai batu bara. Kita aja yang terlalu kekinian," tegasnya, Senin (26/5/2025).
Bahlil juga meminta agar penggunaan batu bara tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang haram. Apalagi mengingat batu bara ini dihasilkan sendiri oleh Indonesia.
"Kalian besok pun kalau memang kita masih membutuhkan listrik dan uang kita tidak ada, batu bara itu bukan barang haram. Aku pakai lagi. Kenapa susah? Turki itu masih pakai batu bara. Jangan dipersepsikan batu bara itu haram gitu loh. Oh ini barang punya kita di republik kok," tukasnya.
Bahkan ia juga menilai, jika diperlukan, porsi pembangkit batu bara ini bisa ditambah melebihi kuora yang telah ditetapkan dalam RUPTL.
"Jadi mau ditambah pun tidak apa-apa. Kalau memang itu negara butuhkan. Eropa juga sebagian masih pakai batu bara. Kenapa harus dibuat dikotomi? Enggaklah. Jadi kita akan menyesuaikan dengan kebutuhan kita itu," tukas Bahlil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










