Komisi B DPRD Jakarta Cecar PAM Jaya Soal Kebocoran Air hingga 46 Persen

AKURAT.CO Komisi B DPRD Jakarta mengevaluasi kinerja PAM Jaya terkait tingginya angka Non-Revenue Water (NRW) yang mencapai 46 persen, atau setara hilangnya 320 ribu meter kubik air dari total suplai.
Ketua Komisi B DPRD Jakarta, Nova Harivan Paloh, menilai angka itu sangat tinggi dan berpotensi menimbulkan kerugian besar jika dikonversikan ke nilai rupiah. Untuk itu, dia meminta transparansi aliran air yang tidak tercatat sebagai pendapatan.
"320 ribu meter kubik ini airnya ke mana? istilahnya tidak ada revenue dong berarti. Sebab hampir setengah dengan NRW yang 46 persen itu," kata Nova usai rapat evaluasi di Gedung DPRD Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: PAM Jaya Bersama TP PKK Bagi-bagi Toren Air Gratis di Jakarta Utara
Dia mengungkapkan, terdapat pemahaman baru terkait klasifikasi NRW yang tidak hanya mencakup kebocoran fisik, tetapi juga faktor lain seperti buffer stock dan kendala komersial.
"Tadi pak Dirut sampaikan ada persepsi baru kalau NRW selama ini kita dapati tingkat kebocoran. Tapi disampaikan tadi ada buffering, ada terkait komersial, dan fisikal," ungkapnya.
Dengan demikian, pihaknya akan mendalami data tersebut, terutama terkait lokasi dan besaran buffer stock dalam jaringan distribusi air.
Selain itu, Komisi B juga menyoroti target aset PAM Jaya dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2025 sebesar Rp8 triliun, yang hingga kini baru terealisasi sekitar Rp6 triliun. DPRD meminta Badan Pembinaan BUMD mengkaji rencana pembentukan anak perusahaan untuk outsourcing agar kebijakan lebih efektif dan efisien.
"Kita melihat seperti apa sih efektifnya untuk anak perusahaan itu," kata Nova.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasruddin, menjelaskan NRW terbentuk dari tiga komponen utama, yakni kerugian fisik, kerugian komersial, dan stok penyangga (buffer stock).
Baca Juga: DPRD Jakarta Tekankan Raperda SPAM Bukan Atur Perubahan PAM Jaya Jadi Perseroda
Menurutnya, air yang masuk kategori NRW tidak sepenuhnya hilang, melainkan belum terdistribusi ke pelanggan atau belum tercatat sebagai penjualan. "Jadi masuk ke dalam kategori air yang tidak menghasilkan pendapatan atau NRW tadi," jelas Arief.
Untuk menekan angka kebocoran, PAM Jaya menyiapkan sejumlah strategi, di antaranya penggantian pipa tua guna mengurangi kebocoran fisik serta digitalisasi meteran pelanggan untuk meningkatkan akurasi pencatatan penggunaan air.
"Kita sedang mendetailkan lagi datanya per wilayah supaya ketahuan di mana yang memang murni bocor fisik, mana yang komersial, dan mana yang memang tersimpan sebagai stok di jaringan kita," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





