Akurat
Pemprov Sumsel

Alasan Tajikistan Larang Hijab Sebagai Negara Mayoritas Muslim, Ternyata Sudah Ada Sejak Lama!

Iim Halimatus Sadiyah | 26 Juni 2024, 22:30 WIB
Alasan Tajikistan Larang Hijab Sebagai Negara Mayoritas Muslim, Ternyata Sudah Ada Sejak Lama!

AKURAT.CO Baru-baru ini, negara mayoritas muslim Tajikistan membuat heboh dunia karena sebuah peraturan yang melarang warganya memakai hijab.

Pasalnya, Tajikistan merupakan negara mayoritas muslim yang justru membuat larang hijab karena dianggap sebagai garis politik yang telah diterapkan pada pemerintahan Presiden Emomali Rahmon sejak 1997.

 

Pemerintah Tajikistan memberlakukan hukum yang melarang hijab, meskipun negara tersebut didominasi oleh warga yang beragama islam.

Aturan terbaru dari serangkaian 35 tindakan terkait agama, dalam sebuah langkah yang digambarkan oleh pemerintah Tajikistan sebagai "melindungi nilai-nilai budaya nasional" dan "mencegah takhayul serta ekstremisme”.

Baca Juga: Profil Tajikistan, Negara Muslim yang Larang Warganya Gunakan Jilbab dan Rayakan Hari Besar Islam

Dikutip berbagai sumber, Rabu (26/6/2024), ternyata peraturan mengenai larangan hijab di Tajikistan telah disetujui oleh majelis tinggi parlemen Majlisi Milli.

Aturan itu terkait melarang penggunaan pakaian asing, termasuk hijab, atau penutup kepala yang biasanya dikenakan oleh perempuan Muslim.

Pemerintahan Tajikistan justru menyarankan warganya untuk terbiasa menggunakan pakaian nasional dari negara Tajikista.

Bukan hanya larangan biasa, ternyata bagi warga yang melanggar aturan tersebut juga akan dikenakan denda dengan jumlah yang tak sedikit.

Baca Juga: Tajikistan Resmikan UU Larangan Berhijab, Pelanggar Didenda hingga Rp88 Juta

Jika seseorang melanggar undang-undang Tajikista, mereka akan didenda dengan jumlah mulai dari 7.920 somoni Tajikistan, yaitu sekitar Rp12 juta ntuk warga negara biasa.

Sementara untuk pejabat pemerintahan, akan didenda 54.000 somoni atau sekitar Rp82 juta, dan 57.600 somoni atau sekitar Rp88 juta untuk tokoh agama.

Undang-undang yang serupa yang disahkan awal bulan ini juga memengaruhi beberapa kebiasaan tradisi agama, seperti tradisi Tajikistan lama yang disebut iydgardak, di mana anak-anak pergi ke beberapa rumah untuk mengumpulkan uang di hari raya Idul Fitri.

Keputusan tersebut dianggap mengejutkan karena negara Asia Tengah ini, dengan populasi sekitar 10 juta orang, di mana 96 persen penduduknya beragama Islam, justru membuat larangan memakai hijab.

Rezim Dushanbe bertujuan untuk mencegah negara tetangga memberikan pengaruh tetapi juga memperkuat kendali mereka atas negara tersebut.

Setelah melarang jilbab di tempat-tempat publik seperti universitas dan gedung pemerintah pada tahun 2009, Tajikistan juga memberlakukan sejumlah peraturan formal dan informal.

Meskipun hukum Tajikistan tidak membatasi mengenai janggut, namun ada laporan bahwa polisi telah mencukur paksa pria yang berjanggut lebat, yang dianggap sebagai tanda pandangan agama ekstremis.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.