Akurat
Pemprov Sumsel

Kemendag Siapkan 46 Perwakilan RI Dorong Ekspor Jasa dari Sekolah Vokasi

Esha Tri Wahyuni | 13 Maret 2026, 10:10 WIB
Kemendag Siapkan 46 Perwakilan RI Dorong Ekspor Jasa dari Sekolah Vokasi
Kemendag memperluas akses ekspor jasa dengan melibatkan SMK melalui jaringan 46 perwadag RI. Sektor animasi, gim, hingga desain dinilai punya potensi global.

AKURAT.CO Menteri Perdagangan, Budi Santoso menegaskan, Kementerian Perdagangan akan memperluas akses ekspor jasa Indonesia dengan melibatkan sekolah vokasi dalam pemasaran internasional.

Melalui jaringan 46 perwakilan perdagangan (perwadag) RI di luar negeri, pemerintah akan memfasilitasi presentasi bisnis dan penjajakan pasar global bagi siswa serta lulusan SMK.

Komitmen tersebut disampaikan Mendag saat mengunjungi SMK Raden Umar Said, Kudus, Jawa Tengah. Sekolah tersebut dikenal memiliki spesialisasi di bidang animasi dan merupakan bagian dari sekolah binaan Djarum Foundation. Selain itu, Mendag juga meninjau SMK NU Banat yang fokus pada tata busana serta SMK Wisudha Karya dengan spesialisasi jasa keahlian teknis.

“Tugas kami adalah mencarikan pasarnya. Sebagai langkah selanjutnya, Kemendag akan memfasilitasi presentasi daring antara sekolah vokasi dan 46 perwadag RI untuk membantu pemasaran ke luar negeri. Perwadag akan mencarikan pembelinya, kemudian mempertemukan secara daring melalui business matching,” ujar Budi Santoso dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Baca Juga: Industri Fashion Bintan Bidik Pasar Global, Wamendag Siap Dukung IKM Naik Kelas

Langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan kontribusi sektor jasa terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai ekspor jasa Indonesia pada 2025 mencapai USD 42,80 miliar.

Namun kontribusi sektor jasa terhadap ekonomi nasional masih relatif rendah dibandingkan tren global. Bank Dunia mencatat, selama periode 2014–2023, rata-rata kontribusi sektor jasa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia mencapai 63,3 persen. Sementara di Indonesia kontribusinya masih sekitar 43,8 persen dari PDB.

Kondisi tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih besar, khususnya pada sektor jasa berbasis kreativitas dan teknologi. Mendag menilai sektor seperti gim, animasi, e-commerce, MICE, hingga desain grafis dan fesyen memiliki potensi ekspor yang signifikan.

“Pitching dengan perwadag RI akan membuka peluang ekspor jasa terutama sektor jasa bisnis lainnya seperti gim, animasi, niaga elektronik, MICE, dan desain,” kata Budi.

Pemerintah daerah menilai penguatan pendidikan vokasi juga berperan penting dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebutkan provinsi tersebut memiliki infrastruktur pelatihan tenaga kerja yang cukup besar.

“Saat ini sudah tersedia 4.200 Balai Latihan Kerja (BLK). Secara tidak langsung, pada 2025 serapan tenaga kerja di Jawa Tengah mencapai hampir 470 ribu orang dengan nilai investasi sekitar Rp88 triliun, yang mayoritas berasal dari sektor padat karya,” kata Luthfi.

Direktur Djarum Foundation, Primadi H. Serad, menambahkan bahwa permintaan global terhadap talenta kreatif, khususnya animasi, terus meningkat.

“Animasi ini permintaannya tinggi, tetapi suplainya sedikit. Tugas kami adalah menjembatani pemenuhan permintaan tersebut. Talenta vokasi harus kompeten dari sisi infrastruktur, guru, dan relasi industri,” ujar Primadi.

Baca Juga: PLN Bangun SPKLU di Kemendag, Dorong Percepatan Kendaraan Listrik

Dirinya berharap dukungan pemerintah dapat memperluas akses pasar global bagi lulusan SMK.

Beberapa siswa yang ditemui dalam kunjungan tersebut juga telah terlibat dalam proyek industri nyata. Salah satunya Alika, siswi SMK Raden Umar Said yang bercita-cita menjadi concept artist.

“Proyek yang sedang saya kerjakan saat ini adalah membuat mini series dari sebuah jenama susu untuk momen Ramadan,” kata Alika.

Sementara itu, karya siswa SMK NU Banat bahkan telah dipasarkan ke sejumlah negara seperti Jepang, Singapura, Italia, Prancis, hingga Hong Kong. Salah satu siswi, Dayana, mengatakan sekolahnya tidak hanya mengajarkan teknik menjahit, tetapi juga membaca tren pasar.

“Kami diajarkan untuk membuat busana sesuai tren yang akan datang, sehingga tidak ketinggalan zaman,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Mendag juga mensosialisasikan program Gerakan Kamis Pakai Lokal (Gaspol) yang diinisiasi Kementerian Perdagangan. Program ini mendorong penggunaan produk lokal oleh masyarakat guna memperkuat ekosistem industri domestik.

Menurut Mendag, peningkatan konsumsi produk lokal dapat memberikan efek berganda bagi ekonomi nasional, termasuk mendorong rasio kewirausahaan.

“Ketika adik-adik membuat desain dan produk yang bagus, yang akan memakainya adalah kami juga. Setelah di dalam negeri kita kuat, pasti di luar negeri kita juga akan menjadi pesaing yang kuat,” kata Budi.

Prospek industri fesyen domestik juga dinilai masih sangat menjanjikan. Statista memproyeksikan nilai pasar fesyen Indonesia mencapai sekitar USD 24,5 miliar pada 2026, dengan pertumbuhan rata-rata 3,6 persen per tahun selama lima tahun ke depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.