Minyak Dunia Melemah Usai Pernyataan Trump soal Hormuz

AKURAT.CO Harga minyak dunia melemah pada perdagangan awal pekan, namun masih bertahan di atas level psikologis USD100 per barel di tengah ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Penurunan harga terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pihaknya akan memulai upaya untuk membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat kembali beroperasi dengan aman.
Dikutip dari Reuters, Senin (4/5/2026) harga minyak mentah Brent tercatat turun 64 sen atau 0,59% menjadi USD107,53 per barel, setelah sebelumnya anjlok USD2,23 pada akhir pekan.
Baca Juga: Lonjakan Biaya Plastik Dorong Kenaikan Harga Minyak Goreng
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 84 sen atau 0,82% ke level USD101,10 per barel, melanjutkan penurunan USD3,13 pada perdagangan sebelumnya.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menegaskan komitmen AS untuk menjaga kelancaran jalur pelayaran di kawasan strategis tersebut.
“Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari perairan terlarang ini,” tulis Trump.
Meski demikian, harga minyak masih bertahan tinggi lantaran belum adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Lalu lintas di Selat Hormuz pun dilaporkan masih terbatas akibat ketegangan yang berlangsung.
"Perundingan damai telah terhenti karena kedua pihak menolak untuk mengubah garis merah masing-masing," kata analis ANZ dalam sebuah catatan.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, atau OPEC+, mengatakan mereka akan meningkatkan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari pada bulan Juni untuk tujuh anggota, kenaikan bulanan ketiga berturut-turut.
Baca Juga: IHSG dan Obligasi Kompak Memerah Imbas Lonjakan Harga Minyak Global
Peningkatan ini sama dengan yang disepakati untuk bulan Mei dikurangi bagian Uni Emirat Arab, yang meninggalkan OPEC pada 1 Mei.
Namun, volume yang lebih tinggi ini sebagian besar akan tetap di atas kertas selama perang Iran terus mengganggu pasokan minyak Teluk melalui Selat Hormuz.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








